Green Jobs, Tanggung Jawab Kita!

Diposting pada

Saya sedang duduk di ruang guru sambil makan bakwan di sebelah kawan saya yang keningnya tiba-tiba mengerut. “Ini kenapa semua orang pada ngebahas green jobs, sih?” tanya Pak Eko yang kala itu sedang piket bersama saya.

Siswa masih belajar dari rumah. Namun guru piket masih harus datang ke sekolah untuk menjaga sekolah agar tetap aman dan terkendali.

Saya yang lagi enak-enaknya makan bakwan jadi tertarik dengan apa yang dibaca Pak Eko. Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya juga sempat nonton pembahasan green jobs di Youtube.

“Sebuah energi terbarukan yang baik untuk bumi. Hmmm… ini sebetulnya apa?” Pak Eko, kawan di sebelah saya ini nampaknya semakin bingung. “Pak Hadi pernah dengar istilah ini kah?”

Saya noleh ke Pak Eko sambil mengangguk, tetap sambil makan bakwan. Pagi ini perut saya rasanya lapang sekali untuk diisi banyak makanan. Saya emang sudah berniat bercerita, tapi saya nunggu perut saya yang bundar ini agak mengganjal dulu.

“Udah sini bakwannya, makan mulu.” Pak Eko merampas makanan di depan saya untuk dia lempar ke mulutnya.

Saya memulainya dengan memberikan cerita kepada Pak Eko tentang sumber daya alam yang melimpah, dengan cara menunjuk beberapa tumpukan soal bekas ulangan semester sejak beberapa tahun terakhir yang sekarang menggunung.

Pak Eko dan saya sebelumnya juga sempat ngobrolin tentang kertas. Makanya dia sangat paham bahwa setiap kertas yang diproduksi memang memerlukan bahan kimia, air dan energi dengan jumlah yang besar. Bahkan Pak Eko tahu betul kalau diperlukan 1 batang pohon yang berusia 5 tahun untuk dapat memproduksi 1 rim kertas.

Nah, di sinilah kemudian saya menyolek Pak Eko untuk mengaitkannya dengan green jobs agar dia sedikit paham, bahwa mestinya ada energi terbarukan untuk menggantikan ini, agar tidak ada lagi pohon yang berusia 5 tahun yang hanya dihargai sekitar 50ribu rupiah, ketika sudah menjadi 1 rim kertas itu.

Apa itu Green Jobs?

Lebah, Pengumpulan, Panen, Rumput, Hijau, Taman
dari pixabay.com

Pak Eko berhenti makan bakwan, saya noleh ke piringnya emang sudah habis sih. Lalu Pak Eko noleh ke saya. “Terus yang dimaksud green jobs itu apa?” Pak Eko masih tidak habis pikir dan hampir menyerah.

Saya hampir kepayahan membuat Pak Eko paham. Lalu saya ajak dia kembali ke pembahasan kertas tadi, yang saya tekankan adalah 1 pohon berusia 5 tahun yang dapat menjadi kertas 1 rim. Pelan-pelan saya cekoki Pak Eko ini dengan istilah yang diberikan oleh ILO yang merupakan Organisasi Buruh Internasional.

Begini Pak Eko, International Labour Organization katakanlah ini sebagai ILO, menurut ILO pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan alam, terkhusus yang berkaitan dengan perawatan lingkungan, dapat diklasifikasikan ke dalam kategori yang bernama Green Jobs.

Pak Eko manggut-manggut. “Contoh pohon yang dijadikan kertas tadi adalah pemanfaatan sumber alam yang sebenarnya bertujuan baik. Tapi saya jadi cemas ini, Pak Hadi,” Pak Eko memincingkan matanya menatap saya. “Mengingat ada musibah banjir yang belakangan ini terjadi di Kalimantan, tanah longsor di Sumedang, saya kuatir kalau generasi muda kita saat ini tidak melek informasi tentang green jobs ini.”

Saya setuju dengan pemikiran Pak Eko tersebut. Namun saya masih menunggu gagasan dia selanjutnya, karena gerakan keningnya yang mengernyit seolah masih ada kalimat yang belum dia selesaikan.

“Saya merasa generasi muda sekarang bisa memberikan kontribusi yang besar untuk menyelamatkan bumi.” Pak Eko menghela napas.

Tapi kali ini saya yang balik mengernyitkan jidat. Sebenarnya ungkapan Pak Eko ini tidak salah. Hanya saja masih banyak anak muda yang saat ini masih merasa asing dengan istilah green jobs ini. Apalagi kalau harus diartikan secara langsung malah berarti pekerjaan hijau. Pasti banyak anak muda yang kebingungan memikirkan apa itu pekerjaan hijau?

“Jadi sebenarnya green jobs ini tanggung jawab siapa?” tanya Pak EKo.

Contoh Peluang Kerja Green Jobs

dari pixabay.com/mary1826

Ada banyak sekali contoh pekerjaan yang berkaitan dengan green jobs. Apalagi saat ini juga sudah ada jurusan Teknik Lingkungan yang dapat diambil oleh seluruh anak muda yang baru lulus SMA.

Jadi semestinya anak muda kita saat ini memiliki peluang yang cukup besar untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, dengan penghasilan yang layak, sekaligus dapat menyelamatkan bumi.

“Anak saya yang sulung saat ini kuliah di jurusan Teknologi Pangan, artinya ke depannya anak saya juga bisa mendapatkan peluang untuk bisa menjadi pelaku green jobs. Bukan begitu, Pak Hadi?”

Saya mengangguk sepakat. Bukan hanya sedang berusaha menyenangkan hatinya Pak Eko, tapi menurut saya anak Pak Eko ini nantinya juga bisa menciptakan pekerjaan yang berkaitan dengan green jobs yang sukses. Misalnya dengan membuat bisnis makanan organik khusus untuk yang sedang diet.

Semoga tidak hanya anak sulung Pak Eko saja, tapi semua generasi muda dapat mendapatkan peluang yang sama untuk senantiasa menyelamatkan bumi.

Alasan Memilih Green Jobs

Profesor, Buku, Lucu Buku, Green Paper, Dunia, Bumi
dari pixabay.com/mary1826

Menurut saya ada dua alasan kenapa kita harus memilih green jobs, apabila kita lihat dari bentuk dan dampaknya, yakni sebagai berikut:

  • Memberikan Kehidupan yang Lebih Baik – adanya generasi muda penerus bangsa yang mampu bersinergi dengan lingkungan, dengan cara menciptakan energi terbaharukan akan membuat keadaan bumi menjadi lebih terawat, sehingga manusia di kehidupan yang akan datang dapat hidup lebih baik.
  • Memberi Dampak Besar Terhadap Perekonomian Negara – ini sudah ada risetnya, tentang perusahaan dan juga startup yang bergerak di bidang clean energy, saat ini sudah menjadi salah satu pengaruh terbesar pergerakan ekonomi di Amerika. Bahkan untuk bisnis kelas kecil sekalipun, prospek jangka panjangnya sangat cerah dengan ribuan proyek menunggu setiap tahun.

Maka tidak menutup kemungkinan bahwa generasi muda negara kita saat ini bisa memulai green jobs, agar Indonesia dapat merasakan dampak perekonomian yang maju layaknya di Amerika.

“Oh saya paham, Pak Hadi, jadi green jobs ini emang bakalan baik kalau dilakuka oleh anak muda. Namun orang dewasa seperti kita juga bertanggug jawab untuk memberikan nasihat, pengarahan, serta contoh yang baik, agar kehidupan bangsa ke depannya dapat lebih terkendali.”

Saya tersenyum menatap Pak Eko yang sudah bersiap pulang dan mengenakan helmnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *